Adek
Cewek yang Sexy 3:The First Sex
“Dit! Jaga belakang!”
“DEFENSE! TAHAN ERIC!”
“DEFENSE! TAHAN ERIC!”
Eric berlari ke arahku, menggiring
bola dengan lincah. Samuel mencoba menahannya, tapi ia terus berlari dengan
lincah. Sekarang tinggal satu lawan satu denganku. Semua terserah padaku sekarang.
Aku bergerak maju, membentangkan tanganku, menutup ruang geraknya. Eric
menganyunkan kakinya, menendang. Aku menerkam…
BUAK!!!
Gelap…
Gelap…
“Dit… Dit lu gapapa?”
“Oi… Dit…”
“Oi… Dit…”
Perlahan, aku membuka mataku… Wajah
teman-temanku bergetar dan tampak kabur dalam pandanganku. Aku mengerjapkan
mata, saat itulah aku merasakan linu yang amat sangat di selangkanganku. Sangat
menyengat dan berdenyut-denyut rasanya. Eric juga menunduk di atasku. Wajahnya
pucat pasi.
“Hei, man… Lu… Lu gapapa kan? Gue
tadi ga sengaja… Abis…” katanya tergagap.
“Enak aja ga sengaja! Kan udah jelas dia bakal loncat ngambil bola! Kenapa lu tetep hajar sekenceng itu?!” Chris naik pitam, mendorong bahu Eric.
“Tapi… Gue emang ga sengaja!”
“Alaahhh…!!”
“Hei…”
“Enak aja ga sengaja! Kan udah jelas dia bakal loncat ngambil bola! Kenapa lu tetep hajar sekenceng itu?!” Chris naik pitam, mendorong bahu Eric.
“Tapi… Gue emang ga sengaja!”
“Alaahhh…!!”
“Hei…”
Semua menoleh ke arahku.
“Chris, udalah… Gue gapapa koq. Tadi
lengah juga… Ric, gapapa… Gue tau lu ga sengaja…” kataku menghibur. Mataku
berair menahan sakit. Perutku mual. Teman-teman tim futsalku berusaha
menolongku berdiri. Aku berdiri dan melangkah tertatih-tatih kea rah gawang.
Sakit sekali rasanya. Eric benar-benar mengerahkan kemampuan penuhnya tadi.
Hari itu aku dan teman-teman tim
futsalku sedang bertanding melawan tim dari kompleks lain. Lapangan futsal di
dekat rumahku yang biasa kami sewa sedang mengadakan kejuaraan futsal. Hari itu
pertandingan terakhir penyisihan grup. Sebenarnya kedua tim yang bertanding
hari itu sudah pasti lolos; kami hanya memperebutkan posisi juara grup, karena
bila kami mendapat posisi runner-up, lawannya adalah tim yang sangat jago dari
grup lain. Terus terang, kami agak ngeri melawan tim itu.
Saat ini skor imbang 5-5…
Pertandingan tinggal tersisa 2 menit lagi. Jika posisi tetap seperti ini,
kamilah yang akan lolos sebagai juara grup. Tapi dalam 2 menit terakhir ini tim
Eric terus memborbardir gawang yang kukawal.
“Hei… Lu gapapa? Masih bisa maen
lagi? Tinggal 2 menit koq…”
Aku mengangguk, berusaha menegakkan
badanku di bawah mistar gawang. Pandanganku agak kabur saat ini. Pertandingan
dilanjutkan…
* * *
Aku berjalan perlahan-lahan ke arah
rumahku. Selangkanganku masih sakit rasanya. Aku mengernyit, jengkel. Saat
pertandingan tinggal tersisa 30 detik, sebuah umpan silang dari kanan kotak
penalti timku diteruskan Eric dengan sebuah sundulan cantik. Aku benar-benar
terkecoh. Akhirnya tim lawan menang 6-5, dan mereka menjadi juara grup.
Aku menggelengkan kepala. Susah
sekali berkonsentrasi hari ini, apalagi setelah terkena tendangan bola futsal
yang sangat keras tepat di penisku… Urgh!
Aku menggelengkan kepala lagi.
Sebenarnya sudah sejak awal pertandingan aku sulit berkonsentrasi. Pikiranku
terpaku pada adikku Vany… Terutama apa yang dilakukannya tadi pagi.
Tadi pagi, Vany harus berangkat ke
sekolah karena ia menjadi ketua panitia MOS (Masa Orientasi Siswa) di sekolah.
Hari ini para siswa-siswi SMP baru sudah harus masuk ke sekolah untuk menjalani
masa orientasi, dan Vany harus menyiapkan segala sesuatunya dengan baik.
Sebelum pergi, pagi-pagi sekali, Vany membangunkanku dengan ciuman nakal
perlahan di leherku. Saat aku terbangun, aku melihat adik kecilku yang imut itu
tersenyum manis, dengan kancing kemeja seragam sekolah yang tidak dikancingkan
dan bra merah muda berenda yang diangkat. Dadanya yang besar menggelayut
menggiurkan di hadapanku. Sekejap kemudian Vany sudah menjepit penisku dengan
kedua dadanya yang empuk, memijat dan meremasnya perlahan. Aku yang terkejut
hanya bisa menikmati sensasi luar biasanya. Tak butuh waktu lama bagiku untuk
meledakkan sperma kentalku berkali-kali melumuri wajahnya yang imut. Setelah
membersihkan wajahnya, Vany tersenyum puas, mengecup bibirku, kemudian pergi ke
sekolah.
Bayangan akan apa yang terjadi pagi
itu terus terngiang di kepalaku, bahkan saat pertandingan futsal sedang
panas-panasnya sore itu. Mungkin itu yang membuatku dapat kebobolan hingga
tujuh gol. Gila…
Lagipula… Sakit sekali... Bagaimana
jika aku tidak dapat tegang lagi untuk seterusnya? Apa kata Vany? Grace?
Cherry?
Langkahku gontai melintasi halaman
rumah. Aku membuka pintu depan rumah. Sepi, kedua orang tuaku sedang menghadiri
acara keluarga besarku di Semarang selama seminggu. Aku membanting sepatu
futsalku di tempat sepatu, mendaki tangga dengan lemas menuju kamarku,
membanting tas dan sarung tangan kiperku, melepas semua pakaianku, kemudian
melangkah ke kamar mandi. Aku ingin cepat-cepat mandi air panas. Tanpa
memperhatikan apa-apa, aku membuka pintu kamar mandi. Aku tertegun.
Vany sedang mandi dengan santainya.
Tampaknya ia tak sadar aku membuka pintu kamar mandi. Vany bermain-main dengan
air dari shower, menggosok lengan, leher, pantat, dan tentu saja dadanya yang
besar menggiurkan.
“V… Van?”
“Eh… Kak? Koq ga ngetok dulu?”
tanyanya gugup.
“Hah? Oh… Oh iya… Sory tadi kakak pikir ga ada orang…”
“Oh… Hahaha ya namanya kan kamar mandi bareng… Ketok dulu lah…” jawabnya santai. “Gimana futsalnya?”
“Kalah…6-5… Jadi runner up…” jawabku lemas. “Udah gitu punya kakak ketendang bola kenceng banget lagi… Jarak dekat…”
“Hah??! Oh ya?” ujar Vany terkejut. Ia memperhatikan penisku. “Tapi… Koq… Kayaknya gapapa ya…” lanjutnya. Aku menangkap nada geli dalam suara manisnya.
“Ya iyalah gapapa…. Dasar…” memang saat itu penisku sudah kembali tegang setegang-tegangnya. Segala pikiran tentang apakah aku dapat tegang lagi sirna sudah saat aku meihat tubuh Vany yang basah kuyup sedang mandi.
“Hah? Oh… Oh iya… Sory tadi kakak pikir ga ada orang…”
“Oh… Hahaha ya namanya kan kamar mandi bareng… Ketok dulu lah…” jawabnya santai. “Gimana futsalnya?”
“Kalah…6-5… Jadi runner up…” jawabku lemas. “Udah gitu punya kakak ketendang bola kenceng banget lagi… Jarak dekat…”
“Hah??! Oh ya?” ujar Vany terkejut. Ia memperhatikan penisku. “Tapi… Koq… Kayaknya gapapa ya…” lanjutnya. Aku menangkap nada geli dalam suara manisnya.
“Ya iyalah gapapa…. Dasar…” memang saat itu penisku sudah kembali tegang setegang-tegangnya. Segala pikiran tentang apakah aku dapat tegang lagi sirna sudah saat aku meihat tubuh Vany yang basah kuyup sedang mandi.
“Eh… Mm… Jadi…” kata Vany.
“Hah? Oh…” aku tersenyum. “Mau mandi bareng?”
“Hah? Oh…” aku tersenyum. “Mau mandi bareng?”
Vany nyengir.
“Dasar nakal…” bisiknya. Tapi ia
membukakan juga pintu kaca pembatas ruang shower. Aku masuk, dan seketika itu
juga hangatnya air membasahi tubuhku. Damai dan tenang sekali rasanya.
Vany merapatkan dirinya ke arahku.
Dadanya yang besar menekan tubuhku, kenyal dan empuk sekali rasanya. Vany
mengusap perlahan punggungku.
“Mau aku sabunin, Kak?” tawarnya.
Aku mengangguk.
Ia mengambil botol sabun cair,
menuangnya ke atas telapak tangannya, kemudian mengusapnya perlahan di
punggungku. Aku menunduk, memandang adikku. Vany mendongak, tersenyum. Kami
saling bertatapan beberapa lama. Perlahan, Vany mendekatkan bibirnya ke arah
bibirku. Aku menyambutnya lembut. Sangat perlahan, kami berciuman. Lidah Vany
menusuk ke dalam mulutku dan membelit lidahku. Suara decak ciuman kami semakin
lama semakin nyaring. Ciuman kami semakin panas, tapi masih dalam gerakan yang sangat
perlahan.
Aku menjulurkan kedua tanganku,
meremas pantatnya yang kencang dan bulat. Dalam benakku aku sungguh ingin
meng-anal adikku ini suatu hari nanti. Vany menekankan dadanya semakin kencang
ke arah tubuhku. Aku dapat merasakan putingnya yang mengeras, seksi sekali.
“Gimana MOS?” kataku saat ciuman
kami terlepas. Aku bertanya sambil meremas-remas dadanya yang besar. Empuk dan
kenyal sekali. Rasanya sungguh berbeda dengan dada cewek-cewek lain.
“Seru… Tapi anaknya pada susah diatur… Bandel-bandel…” katanya sambil memanyunkan bibir. Aku tertawa.
“Haha.. Bandel mana sama kamu? Hm?”
“Aah Kakak…” bisiknya manja. Tangan mungilnya sudah berpindah mengusap bagian depan tubuhku sekarang.
Aku memainkan putingnya yang telah sangat keras. Kujilati putting kirinya yang sensitif, sementara tangan kiriku meremas dada kanannya dengan nafsu. Vany memejamkan menikmati. Perlahan, tangannya bergerak ke arah penisku yang sangat tegang. Vany jongkok, menghadapi penisku sambil mengusapnya perlahan dengan sabun.
“Seru… Tapi anaknya pada susah diatur… Bandel-bandel…” katanya sambil memanyunkan bibir. Aku tertawa.
“Haha.. Bandel mana sama kamu? Hm?”
“Aah Kakak…” bisiknya manja. Tangan mungilnya sudah berpindah mengusap bagian depan tubuhku sekarang.
Aku memainkan putingnya yang telah sangat keras. Kujilati putting kirinya yang sensitif, sementara tangan kiriku meremas dada kanannya dengan nafsu. Vany memejamkan menikmati. Perlahan, tangannya bergerak ke arah penisku yang sangat tegang. Vany jongkok, menghadapi penisku sambil mengusapnya perlahan dengan sabun.
“Aduh kacian… Kamu tadi kena bola
ya?” Vany berbicara pada penisku, seolah berbicara pada anak kecil yang lucu.
Ia mengusap-usapnya, mengocoknya perlahan. Enak sekali.
“Mmhh… Van… Tuh kan… Bandel kamu…” desahku.
“Mmhh… Van… Tuh kan… Bandel kamu…” desahku.
Vany nyengir. Ia membiarkan air dari
shower membilas sabun dari penisku hingga bersih. Ia menjilat-jilat penisku
dengan perlahan, dari pangkal hingga ujungnya.
Vany segera memasukkan penisku ke
dalam mulutnya. Perlahan-lahan, ia menggerakkan kepalanya maju, memasukkan
semakin banyak bagian dari penisku kedalam mulutnya.
“Van.. Mmhh… Van ati-ati keselek…”
Vany terus memajukan kepalanya. Aku
melihat semakin lama ia semakin kesulitan. Saat ¾ bagian penisku sudah masuk, aku
merasa kepala penisku telah menyentuh leher dalamnya. Vany memainkan lidahnya
di bagian bawah penisku. Enak sekali.
“Aaahh… Vann.. Van.. Terus gitu…
Mmmh…”
Vany menyedot semakin kencang.
Gerakan kepalanya pun semakin cepat maju mundur. Lidahnya terus bergerak
berputar-putar di bagian bawah penisku, menjilat pangkalnya. Aku tak tahan
lagi.
“OOOHH.. VAANN… Ka… Kak mau…
Keluarrr… MmmmHH!!!”
Aku meledakkan spermaku ke dalam
mulutnya. Mulutnya yang mungil tak sanggup menahan semprotan yang begitu
kencang. Vany melepaskan sedotannya, membuat semburanku beralih melumuri
wajahnya dengan cairan putih kental.
“Ooh… Vaan… Van…” desahku keenakan.
Aku bersandar lemas ke tembok kamar
mandi. Vany membiarkan semburan air dari shower membersihkan mukanya. Enak
sekali rasanya. Penisku masih tegang, seperti 2 kali sebelumnya, tak cukup
hanya sekali aku merasakan kenikmatan adik kecilku ini.
Vany memelukku. Dadanya yang empuk
menekan tubuhku. Gejolak antara akal sehat dan nafsu kembali berkecambuk di
benakku. Tapi memang nafsu selalu menang. Aku sudah melangkah sejauh ini… Aku
rasa sudah terlambat untuk berputar kembali. Aku menunduk, menatap Vany yang
balas menatapku. Dari sorot matanya, aku tahu bahwa nafsu juga telah
menguasainya.
Tanpa sepatah kata pun, aku
membalikkan badannya ke arah dinding kamar mandi. Seolah tahu apa yang hendak
kulakukan, Vany meletakkan kedua tangannya pada tembok untuk bertumpu,
berjinjit, mengangkat pinggulnya, menyerahkan sepenuhnya vaginyanya untukku.
Aku mengarahkan penisku,
meletakkannya di belahan pantatnya yang montok. Sesaat, aku ingin mengawali
semuanya dengan meng-anal Vany, tapi sesaat kemudian aku telah menggeser
perlahan kepala penisku ke arah bibir vaginanya yang bersih tak berambut.
Kumain-mainkan bibir vaginanya dengan kepala penisku; kuusap perlahan, lembut.
“Mmh… Kak… Masukin aja langsung…”
pintanya.
Aku setuju. Kumasukkan perlahan
kepala penisku. Vany berjengit pelan. Aku merasakan ketegangan mengaliri tubuh
adikku.
“Kamu yakin, Van?” tanyaku.
Sekali lagi, logika berteriak-teriak
di pikiranku. DIA INI ADIKMU! SADAR! Aku yakin suara yang sama juga berteriak,
menggedor-gedor akal sehat Vany. Tapi saat itu kulihat anggukan perlahan tapi
mantap dari adik kecilku ini. Keraguanku sirna.
Perlahan, tak ingin menyakiti, aku
menusukkan penisku ke dalam vaginanya. Vany mengejang. Aku memasukkan semakin
dalam, sudah masuk ¼ bagian sekarang. Sempit sekali… Agak sulit.
“Mmmhh… Aaahh… Aaa… Aaahhh Kak… S… ”
Vany mendesah. Aku tahu pasti terasa agak sakit untuknya.
“Kalo sakit kasi tau Kakak ya…”
bisikku. Vany mengangguk. Aku memasukkan semakin dalam. Kepala penisku
menyentuh selaput tipis. Keperawanan Vany dipertaruhkan. Sekali lagi aku
bertanya.
“Kamu bener-bener yakin…?”
Vany tidak menjawab. Tiba-tiba ia
mendorongkan pantatnya ke arahku dengan kencang. Selaput daranya robek, penisku
benar-benar masuk ke dalam vaginanya.
“AAAHHH….!!!!” Jeritnya kencang.
Vany mengakhiri masa perawannya… Di usia 14 tahun. Aku melirik ke bawah, darah
segar mengalir pelan dari arah selangkangannya, mengalir turun melalui pahanya.
“Oohh… Oohh… Masuk… Hh… Aku…
Dimasukin… Ka…kak… Aaahh… Gede banget… Hhh…” desahnya, seperti berbicara pada
dirinya sendiri.
Wajah Vany merah padam. Nafasnya
tersengal. Aku tahu betapa sakitnya saat pertama. Aku membelai rambut pendeknya
perlahan.
“Kalo udah ga sakit bilang ya
sayang…” bisikku lembut.
“…. Mmh… Terusin aja Kak…” pintanya. “Pelan-pelan…”
“…. Mmh… Terusin aja Kak…” pintanya. “Pelan-pelan…”
Aku memasukkan penisku semakin dalam
perlahan-lahan. Luar biasa sempit dan hangat di dalam. Vagina Vany seolah
menjepit penisku. Aku terus memasukkan penisku hingga kepalanya menyentuh ujung
vagina Vany. Vany memiliki vagina yang sangat dalam untuk cewek semungil dia.
“Siap?” tanyaku. Vany tersenyum,
mengangguk.
Kutarik penisku hingga setengah
jalan, dan dengan kekuatan penuh aku menghujamkannya kembali ke dalam.
“Aaahh!!! Aaahh… Kakk!! Pelan…
Pelaa… AANN!! Oohh… Aaahhh!!!” Vany menjerit-jerit keenakan. Aku menggerakkan
pinggulku dengan kuat. Pikiranku semakin kabur. Realitas bahwa cewek yang
sedang kusetubuhi sekaran adalah adikku sendiri sedikit demi sedikit hilang
lenyap.
“Ooohh… Vaaannn… Kam…u… Sempit
bangeeett… Aaah… Mmmhh!!” desahku. Aku menjangkau, meremas-remas dadanya yang
menggelayut, berguncang-guncang seirama hantaman penisku.
“Kaa… Aaahhh… Kakak… punya… Aaahhh… Kakak punya yang… Mmmhh!! Kegede… ann… aahhh… Mhhh!!” jawabnya tak mau kalah.
“Kaa… Aaahhh… Kakak… punya… Aaahhh… Kakak punya yang… Mmmhh!! Kegede… ann… aahhh… Mhhh!!” jawabnya tak mau kalah.
Vany mengeratkan jepitan vaginanya.
Enak sekali! Penisku seperti dipijat-pijat di dalam sana.
“Aaahh… Aaahhh… Mmmmhh!!! Mmmnn…
Kaak… Ohh kakk…” desahnya setiap kali penisku menghujam ke dalam vaginanya.
Pinggulku seakan bergerak otomatis, tak bisa berhenti. Sempit dan hangatnya
vaginanya, dipadu dengan sensasi empuk pantatnya yang menghantam-hantam
pinggangku sungguh tak dapat dilukiskan dengan kata-kata.
Aku menggerakkan pinggulku semakin
cepat. Kepala penisku menghantam-hantam mulut rahim Vany.
“Aaahhh!!! Kaakk… Kaa… Ooohh…
Tambah… Gede… Aaahhh!!! Kakak tambah ged…eee… Lagi di… Aaahhh!!! Aaahhh!! Di
dalem…MMMHHH!!! Kaaakkk!!!” Vany menjerit-jerit. Nafasnya sudah tak beraturan
sekarang. Aku semakin kencang menggerakkan pinggulku. Suara pantatnya yang
menghantam pinganggku menggema di kamar mandi.
“KAAKK!! KAA…KKK… LEPAS! LEPAS!
LEPAAsss!! Aaakkuu… Mau… Kelu… AAARR!!!” Vany tiba-tiba berteriak. Aku
terkejut, segera menarik lepas penisku dari vaginanya yang sempit. Seketika itu
juga Vany menyembur-nyemburkan cairan vaginanya. Semprotannya kencang sekali
dan berkali-kali. Vany merosot ke lantai, badannya gemetar hebat. Orgasme
pertamanya sungguh dahsyat.
Tak menunggu lama, aku berlutut di
belakangnya, kutunggingkan pantat Vany dengan kedua tanganku. Jempolku menarik
bibir vaginanya lebar, dan penisku langsung menghujam dengan kuat untuk kedua
kalinya ke dalam tubuh Vany. Lebih mudah sekarang, apalagi setelah squirting
hebat tadi, vagina Vany menjadi sangat becek dan licin.
“Aaahhh!!! Kaaakkk… Kak! Kak… Kakk…
Nnnhhh!!” Vany menjerit.
Buah pelirku menyenggol-nyenggol
klitorisnya, membuat Vany semakin kegilaan menikmati seks pertamanya. Aku
menggerakkan pinggulku dengan sangat cepat, menghantam bagian dalam vaginanya
dengan kuat. Vany kembali mengencangkan vaginanya.
“Aah… aahhh… Aaahhh… aa… Kaak… Oohh…
Ooohh… Enak… Bangett… Mmm… Nnnhh!!!” desahnya. Aku rasa saatku sudah semakin
dekat.
“Ooohh... Vaaann... Kakak... Mau... Keluaarr... Mmmhhh... Mmmmhh... Aaahh...” kataku, tecekat. Vaginanya terasa begitu sempit dan nikmat.
“Aaahhh... Aaahhh... Kuarin... Di luar... Kaakk... Diluar kakk!!! Aaahh!!” pintanya.
“OOOHH!! VV... VVAANNN!!!!”
“Ooohh... Vaaann... Kakak... Mau... Keluaarr... Mmmhhh... Mmmmhh... Aaahh...” kataku, tecekat. Vaginanya terasa begitu sempit dan nikmat.
“Aaahhh... Aaahhh... Kuarin... Di luar... Kaakk... Diluar kakk!!! Aaahh!!” pintanya.
“OOOHH!! VV... VVAANNN!!!!”
Aku mencabut penisku, menjepitkannya
di antara kedua pantatnya yang kencang. Ccrroooottt!!! Crrooouuuttt!!!
Crruuoottt!!!! Aku meledakkan spermaku berkali-kali dengan kencang, melumuri
punggung dan pinggulnya, bahkan ada beberapa semprotan yang mengenai belakang
kepalanya.
Vany terkulai, bernafas
tersengal-sengal. Aku berlutut, melirik ke bawah dan terkejut. Penisku masih
sangat tegang. Tubuhku seakan terus meminta tubuh Vany lagi dan lagi. Sebelum
ini belum pernah aku masih tegang setelah dua kali keluar.
“Van… Lanjut di kamar aja yuk…”
ajakku.
“Kakak... Hhh... Mas...Ih.. Bisa lagi?” tanyanya, tersengal. Aku mengangguk, dengan keheranan yang sama dengannya.
“Kamu masih kuat?”
“Kakak... Hhh... Mas...Ih.. Bisa lagi?” tanyanya, tersengal. Aku mengangguk, dengan keheranan yang sama dengannya.
“Kamu masih kuat?”
Vany mengangguk lemas, masih
terengah-engah dan gemetar.
Kumatikan shower. Aku mengambil
handuk untuk mengeringkan badanku, kemudian kuselubungkan handuk itu ke tubuh
mungil Vany yang gemetaran. Kubantu mengeringkan badannya.
Kuangkat, kugendong adikku ke
kamarku. Kubaringkan ia dengan lembut di ranjangku. Aku naik ke ranjang,
menunduk di atas tubuhnya. Nafas Vany sudah lebih teratur sekarang, ia menatap
mataku. Dadanya yang besar bergerak naik-turun seiring tarikan nafasnya.
“Lanjutin Kak…” katanya sambil
tersenyum. Tanpa kusuruh, ia mengangkat pahanya, mengangkang sangat lebar di
hadapanku.
Aku mengarahkan penisku ke bibir
vaginanya. Untuk ketiga kalinya, kumasukkan penisku ke dalam vaginanya yang
sempit. Vaginanya yang semit seperti menyedot penisku ke dalam. Vany
menggeliat, menggigit bibir bawahnya. Kedua tangannya mencengkeram seprei
dengan erat.
Perlahan, kuhujam-hujamkan penisku
ke dalam vaginanya. Tarik, masukkan, tarik, masukkan. Semakin lama semakin
kuat, semakin lama semakin cepat.
“Aaahhh... AAHH!!! Teruss...
Teruss...!! Terus kakk... Aaahhh!!! Ooohh Kaakk!!!” Vany mendesah liar. Matanya
terpejam, menikmati.
Sambil terus menghujamkan penisku,
aku meremas dadanya. Tak cukup, aku membenamkan wajahku di antara dua bantalan
besar yang empuk itu. Jemariku memainkan puting-putingnya yang tegang.
“Kamu... Makan apa sih... Mmhh...
Vann... Koq bisa... Mmmmhh... Gede gini?” tanyaku.
“Aaahh... Aaahhh... Gata...Uu... Mmm... Tau... Tau tau... Gede... Aaahhh...” jawabnya asal-asalan. Kujilati puting kirinya. Kusedot kuat-kuat, setengah berharap akan merasakan susu yang manis menyemprot dari dalam dadanya yang luar biasa itu. Vany meringis, cengkraman tangannya di seprei semakin erat.
“Aaahh... Aaahhh... Gata...Uu... Mmm... Tau... Tau tau... Gede... Aaahhh...” jawabnya asal-asalan. Kujilati puting kirinya. Kusedot kuat-kuat, setengah berharap akan merasakan susu yang manis menyemprot dari dalam dadanya yang luar biasa itu. Vany meringis, cengkraman tangannya di seprei semakin erat.
“Aaahhhh!!! KaaKkk....!!! Maauu...
Keluar... Lagggiiii!!! AAAHHH!!!” Vany berteriak. Squirting untuk kedua
kalinya, penisku seperti disemprot cairan dingin. Aku tak peduli, kugerakkan
pinggulku semakin cepat. Vany mengangkat pahanya, membantuku. Aku mencengkeram
erat pinggangnya, menggerakkan tubuhnya seirama hantaman penisku. Vaginanya
semakin mengencang.
Tiba-tiba, bagian dalam vagina Vany
seperti bergerak memijat penisku kuat-kuat dengan bergelombang. Aku belum
pernah merasakan sesuatu yang seperti ini! Terkejut, aku memperlambat
genjotanku.
Aku mendongak, menatap wajah Vany
yang merah padam. Dari sorot matanya aku tahu ia dengan sadar melakukan yang
terakhir itu.
“Van... Va... Gimana... Yang...
Ooohh yang tadi itu enak banget!!! Aahh...” kataku. Vany nyengir lemah. Dadanya
mengayun-ayun mengikuti irama gerakan pinggulku.
“Kakak... Aaaahhh... Kak... Mau... Aaahhh... Mau lagi?” godanya. Aku mengangguk cepat-cepat. Vany nyengir semakin lebar.
“Tapi.. Tapi kalo kamu gitu lagi... Kakak bisa-bisa gak keburu ngeluarin di luar...” kataku, agak cemas.
“Gapapa Kak... Yang tadi itu... Mmmhh... Aku juga enak banget... Gapapa... Keluarin di dalem aja... Nnhh... ” katanya.
“Hah? Ntar... Ntar kamu...”
“...Gapapa...”
“Kakak... Aaaahhh... Kak... Mau... Aaahhh... Mau lagi?” godanya. Aku mengangguk cepat-cepat. Vany nyengir semakin lebar.
“Tapi.. Tapi kalo kamu gitu lagi... Kakak bisa-bisa gak keburu ngeluarin di luar...” kataku, agak cemas.
“Gapapa Kak... Yang tadi itu... Mmmhh... Aku juga enak banget... Gapapa... Keluarin di dalem aja... Nnhh... ” katanya.
“Hah? Ntar... Ntar kamu...”
“...Gapapa...”
Aku tahu ini gila. Vany memintaku
mengeluarkan spermaku di dalam tubuhnya. Bagaimana kalau dia hamil? Apa kata
orangtuaku?
Tapi saat logika mulai merasuki
pikiranku lagi, Vany menggerak-gerakkan pinggulnya. Aku seperti otomatis
kembali menghujamkan penisku ke dalam vaginanya, menendang jauh-jauh logika.
Gerakan pinggulku semakin cepat dan
cepat. Vany semakin mengencangkan vaginanya. Aku yakin tak lama lagi aku akan
keluar jika seperti ini terus.
“Aaahhh.... AaahH!!!... Kak...
Kaakk... Siaap? Aahhh... Aaa...” tanyanya. Aku mengangguk liar, semakin
mempercepat genjotanku. Vany menegang, berkonsentrasi. Gerakanku semakin liar.
Nafas kami memburu, tak beraturan.
Dan sensasi itu datang lagi!
Vaginanya seakan menyedot penisku, dan gelombang yang sangat kuat berkali-kali
datang memijat penisku. Aku tak tahan lagi, sensasi ini sungguh luar biasa!
“Vann!! OOH Vaannn!!! Kakak mau...
Aaaahhh... Aaahh!!! VAANN!!! Ke...KELUAR!! Aaahh... Aaahhh!!!” pikiranku
mengabur. Mataku berair.
“DI DALEM!! DI... AAHHH!!! Di daleemm...Keluarin di daleeemm!!!” jeritnya.
“VVVVVVAANN....VVAANNYY!!!!!!”
“DI DALEM!! DI... AAHHH!!! Di daleemm...Keluarin di daleeemm!!!” jeritnya.
“VVVVVVAANN....VVAANNYY!!!!!!”
Aku meledakkan spermaku
sekuat-kuatnya ke dalam rahim Vany. Aku keluar jauh lebih banyak dari yang
sudah-sudah. Satu-dua-empat-enam... Penisku seakan tak mau berhenti meledakkan
spermanya. Enak sekali, hangat sekali. Vagina sempit Vany tak cukup menahan
muatan sperma kakaknya. Cairan putih itu mengalir keluar, melumuri bahkan
penisku sendiri, mengalir membasahi sepreiku...
Aku mencabut penisku. Sudah lemas
sekarang. Rasanya agak linu, keluar tiga kali berturut-turut. Cairan putih kental
masih mengalir keluar dari vagina adikku, terlihat seksi sekali. Vany
tergeletak lemas di ranjangku. Matanya separuh terpejam. Mulutnya menganga
kecil. Keringat membanjiri tubuh kami.
Aku merebahkan diri di sebelahnya,
terengah-engah.
“Van... Hhh... Thanks...”
“Iya... Aku yang thanks... Hhh...” bisiknya. “...Enak banget...”
“Iya... Aku yang thanks... Hhh...” bisiknya. “...Enak banget...”
Terdiam, hanya suara tarikan nafas
terengah kami yang terdengar. Berapa lama kemudian, aku menoleh menatap adikku
yang seksi ini.
“Van... Kalo kamu hamil gimana?
Kakak keluar banyak banget loh tadi di dalem kamu...” tanyaku, cemas.
“Gapapa... Nanti menikah sama kakak...”
“Ngawur kamu...”
“Gapapa... Nanti menikah sama kakak...”
“Ngawur kamu...”
Vany tertawa. Terdiam lagi. Aku
memejamkan mata, belum pernah aku merasakan seks seenak ini.
“Kamu belajar dari mana yang terakhir tadi itu?”
“Gatau... Tau-tau bisa aja...”
“Ohya? Itu enak banget...”
“Lebih enak dari Kak Grace?”
“Jauh...”
“Kamu belajar dari mana yang terakhir tadi itu?”
“Gatau... Tau-tau bisa aja...”
“Ohya? Itu enak banget...”
“Lebih enak dari Kak Grace?”
“Jauh...”
Kami terdiam.
“Kak...”
“Ya?”
“Mulai sekarang... Kalo kakak pas pengen ML... Kasi tau aku...” katanya. “Aku sepenuhnya milik kakak...”
“Ya?”
“Mulai sekarang... Kalo kakak pas pengen ML... Kasi tau aku...” katanya. “Aku sepenuhnya milik kakak...”
Aku terdiam. Tak bisa menjawab.
Dalam hati aku tahu kami sudah melanggar semua batas dan nilai yang normal.
Tapi kenikmatan ini sungguh luar biasa.
“Papa-Mama kan pergi seminggu...”
kataku. “...Banyak kesempatan...”
Vany tertawa.
“Ya...” katanya. “Ntar malem lagi?”
“Kalo kuat...”
“Besok?”
“Sepanjang hari...”
“Kalo kuat...”
“Besok?”
“Sepanjang hari...”
Vany tertawa lagi. Tawa yang renyah
dan imut. Ia berguling, memeluk lenganku dengan sayang.
“Van...”
“Hm?”
“Kapan-kapan... Coba anal yuk...”
“Hm?”
“Kapan-kapan... Coba anal yuk...”
Vany nyengir.
“Yuk...”




Tidak ada komentar:
Posting Komentar